Jabarpos.id, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menjadi sorotan seiring dengan munculnya sejumlah nama yang digadang-gadang menjadi calon direksi untuk periode 2026-2030. Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) pun angkat bicara mengenai ramainya perbincangan ini.
Direktur Eksekutif AEI, Gilman Pradana Nugraha, menyatakan bahwa pihaknya bersikap netral terhadap berbagai paket calon yang bermunculan. Menurutnya, hal ini adalah sesuatu yang wajar dalam setiap proses pemilihan pimpinan BEI. "Saya pikir ya sosok-sosoknya bukan sosok-sosok baru di capital market, sudah punya pengalaman juga," ujarnya usai ditemui di Gedung Mahkamah Agung (MA).

Gilman menambahkan, baik figur internal Self-Regulatory Organization (SRO) maupun eksternal memiliki kelebihan masing-masing. Kombinasi keduanya dalam jajaran direksi BEI merupakan hal yang wajar dan sudah berlangsung selama ini.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa pihaknya belum menerima dokumen pengajuan paket nama-nama calon direksi BEI yang beredar di media massa. "Jadi belum ada yang secara resmi masuk ke OJK. Nanti batas waktunya itu adalah 4 Mei 2026 ini batas waktu terakhir pengajuan paket calon," tegas Hasan.
OJK mempersilakan perusahaan efek untuk mulai menyusun paket calon sesuai mekanisme pasar. Hak pengajuan tetap berada di tangan para anggota bursa yang saat ini menjadi pemegang saham BEI. Setelah dokumen resmi diterima, OJK akan membentuk panitia seleksi yang dipimpin oleh deputi komisioner di sektor Pasar Modal, Derivatif, dan Bursa Karbon.
Sejumlah nama yang beredar di media massa sebagai calon direksi BEI antara lain Iding Pardi, Zaki Mubarak, Yulianto Aji Sadono, Umi Kulsum, Ahmad Subagja, Yohannes Liauw, Andre Tjahjamuljo, Jeffrey Hendrik, Irvan Susandy, R. Haidir Musa, Irwan Abdalloh, R. M irwan, Atep Salyadi Dariah Saputra, Laksono Widodo, Fifi Virgantria, Heru Handayanto, John Tambunan, Donny Arsal, Lidia M. Panjaitan, dan Saidu Solihin.





