jabarpos.id – Siapa sangka, profesi yang sering dipandang sebelah mata ternyata bisa mengantarkan seseorang menjadi miliarder? Kisah sukses seorang penjual es di Jawa pada era kolonial membuktikan hal tersebut. Bahkan, kekayaannya ditaksir mencapai angka fantastis, setara dengan Rp10 triliun di masa kini.
Tasripin, nama pengusaha es tersebut, menjadi bukti nyata bahwa bisnis ini tak bisa diremehkan. Pada awal abad ke-20, Tasripin menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Saat meninggal dunia, hartanya mencapai 45 juta gulden. Jika dikonversikan dengan harga beras saat ini, kekayaannya setara dengan Rp9,7 triliun.

Lalu, bagaimana Tasripin bisa meraih kesuksesan gemilang dari bisnis es? Pada masa itu, es merupakan barang langka karena belum adanya kulkas atau mesin pendingin. Hal ini membuat es menjadi primadona dan dijual dengan harga tinggi. Siapapun yang mampu memproduksi es, berpotensi menjadi kaya raya.
Tasripin melihat peluang tersebut dan mendirikan pabrik es di Ungaran, Semarang pada tahun 1902. Delapan tahun kemudian, ia kembali membuka pabrik es yang lebih besar di Petelan, Semarang. Selain bisnis es, Tasripin juga melakukan diversifikasi usaha dengan membuka rumah penjagalan dan jual-beli kulit hewan.
Keberhasilan Tasripin menginspirasi banyak orang untuk terjun ke bisnis es. Salah satunya adalah Kwa Wan Hong, yang dikenal sebagai raja es Indonesia. Kwa mendirikan pabrik es pertama di Indonesia pada tahun 1895 dengan memanfaatkan reaksi kimia. Berkat Kwa, es menjadi lebih terjangkau dan mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi minuman dingin.
Selain Tasripin dan Kwa Wan Hong, ada juga Robert Chevalier, seorang penjual es di Magelang yang sukses dengan tiga pabrik esnya. Kisah-kisah ini membuktikan bahwa profesi penjual es tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan kerja keras dan inovasi, siapapun bisa meraih kesuksesan, bahkan menjadi miliarder.





