Beranda / Berita / Kejutan di Bursa, Saham Rugi Ini Justru Terbang Tinggi!

Kejutan di Bursa, Saham Rugi Ini Justru Terbang Tinggi!

Kejutan di Bursa, Saham Rugi Ini Justru Terbang Tinggi!

jabarpos.id – Saham PT Acset Indonusa Tbk (ACST) kembali mencuri perhatian investor di awal perdagangan sesi I, Kamis (21/8/2025). Harga saham perusahaan konstruksi ini langsung menyentuh level auto reject atas (ARA) sebesar 34,71% dan berada di harga Rp 163 per saham hanya dalam 23 menit perdagangan.

Lonjakan harga saham ACST ini terbilang mengejutkan. Tercatat sebanyak 236,2 juta saham diperdagangkan dengan frekuensi transaksi mencapai 11.440 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 35,97 miliar. Antusiasme investor terlihat dari antrean beli yang mengular di harga Rp 163, dengan 294 ribu lot masih menunggu untuk dieksekusi hingga pukul 11.12 WIB.

Baca juga:  Emas Indonesia Lenyap Misterius Saat Krisis, Ternyata...
Kejutan di Bursa, Saham Rugi Ini Justru Terbang Tinggi!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kenaikan fantastis ini melanjutkan tren positif yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, Rabu (20/8/2025), di mana saham ACST juga melesat hingga ARA sebesar 34,44%. Dalam sepekan terakhir, saham perusahaan yang merupakan bagian dari Grup Astra (ASII) ini telah melonjak sebesar 83,15%.

Menariknya, lonjakan harga saham ini terjadi di tengah kondisi keuangan perusahaan yang masih mencatatkan kerugian. Acset Indonesia membukukan rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 31,82 miliar pada semester I-2025. Meskipun demikian, kerugian ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 135,99 miliar.

Baca juga:  Prabowo Akan Mengampuni 'Koruptor', Jika Mereka Mengembalikan Apa Yang Telah Mereka Curi

Di sisi lain, perusahaan berhasil membukukan laba kotor sebesar Rp 100,09 miliar, berbanding terbalik dengan semester I-2024 yang mencatatkan rugi kotor sebesar Rp 30,06 miliar. Adapun aset perusahaan tercatat sebesar Rp 2,56 triliun, turun 8,89% secara tahunan (year-on-year).

Fenomena saham rugi yang justru diburu investor ini menimbulkan pertanyaan. Apakah ini merupakan indikasi pembalikan kinerja perusahaan di masa depan, atau hanya euforia sesaat di pasar modal?