Jabarpos.id – Gelombang pengangguran melanda anak muda di Tiongkok, memunculkan istilah "Anak dengan Ekor Busuk" yang menggambarkan lulusan sarjana yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya.
Fenomena ini menjadi sorotan tajam, seperti yang dilaporkan jabarpos.id, mengutip laporan CNA berjudul "Mengapa Sarjana Muda Banyak Menganggur di China". Job fair di Lishuiqiao, Beijing, menjadi saksi bisu minimnya peluang kerja yang sesuai dengan bidang studi para pencari kerja.

Hu Die, lulusan desain dari Harbin University of Science and Technology, mengungkapkan kekecewaannya, "Saya melihat peluangnya cukup suram, pasar tenaga kerja sepi, akhirnya saya mengurungkan niat mengejar posisi tertentu," ujarnya kepada CNA pada awal 2025.
Kisah serupa dialami Li Mengqi, sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi Shanghai, yang telah menganggur selama delapan bulan setelah lulus. Chen Yuyan, lulusan Guangdong Food and Drug Vocational College, bahkan terpaksa bekerja sebagai petugas sortir paket karena sulitnya mencari pekerjaan dengan gaji yang layak.
Krisis ini bukan sekadar masalah individu, melainkan cerminan dari ketidakseimbangan pasar tenaga kerja di China. Zak Dychtwald, pendiri Young China Group, menyoroti kesenjangan antara kerja keras saat kuliah dan realitas pekerjaan yang tersedia.
Zhou Yun, asisten profesor Sosiologi di University of Michigan, menambahkan bahwa persaingan yang ketat dan penyusutan industri-industri penyerap lulusan, seperti startup internet dan pendidikan, memperparah situasi.
Istilah "anak dengan ekor busuk" sendiri merujuk pada sarjana muda yang terpaksa bekerja dengan gaji rendah dan bergantung pada orang tua, mirip dengan "gedung ekor busuk" yang menjadi beban ekonomi China sejak 2021.
Eli Friedman, profesor Global Labor and Work di Cornell University, menyoroti adanya pergeseran budaya, di mana generasi muda lebih enggan menerima pekerjaan berkualitas rendah atau tidak stabil. Mereka juga enggan memulai usaha kecil, berbeda dengan generasi sebelumnya.
Pergeseran ini melahirkan istilah "merunduk" atau tangping, di mana kaum muda memilih mundur dari persaingan kerja yang hiperkompetitif. Mereka semakin kecewa dengan model pengembangan karir tradisional.
Dampak psikologis pengangguran berkepanjangan juga menjadi perhatian. Zhou dari University of Michigan menekankan bahwa ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan tidak hanya menciptakan ketidakpastian ekonomi, tetapi juga menghilangkan martabat dan tujuan hidup.
Dengan jumlah lulusan universitas yang mencapai rekor 12,22 juta orang tahun ini, Pemerintah China mengakui urgensi mengatasi tantangan lapangan pekerjaan. Menteri Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China, Wang Xiaoping, menyatakan bahwa "Ketidakcocokan antara pasokan dan permintaan sumber daya manusia semakin mencolok."
Pemerintah telah merencanakan langkah-langkah untuk mengatasi pengangguran kaum muda, termasuk perluasan peluang kerja, bantuan keuangan, dan dukungan kewirausahaan. Targetnya adalah menciptakan lebih dari 12 juta pekerjaan baru di daerah perkotaan tahun ini.
Namun, di tengah krisis ini, China juga menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil, terutama di sektor manufaktur. Laporan China Daily menyebutkan bahwa China diperkirakan akan kekurangan sekitar 30 juta pekerja terampil di 10 sektor manufaktur utama pada tahun 2025.





