Jabarpos.id – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) merevisi alokasi penggunaan dana dari Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau rights issue senilai Rp 23,67 triliun. Perubahan ini terungkap dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Semula direncanakan sebesar US$ 1.846.320.636, kini dana PMTHMETD dialokasikan dengan prioritas berbeda. Sebesar 36,78% atau Rp 8,7 triliun akan digunakan untuk modal kerja dan operasional, termasuk pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat. Alokasi ini meningkat dari rencana sebelumnya yang hanya 29%.

Manajemen Garuda Indonesia menjelaskan bahwa perawatan dan perbaikan pesawat akan dilakukan oleh GMF AeroAsia dan/atau MRO lainnya berdasarkan perjanjian yang telah ada sejak 2018.
Sementara itu, porsi terbesar, yakni 63,22% atau Rp 14,96 triliun, akan dialokasikan untuk peningkatan modal kepada Citilink. Dana ini akan disalurkan melalui konversi pinjaman pemegang saham menjadi modal serta setoran modal tunai. Sebelumnya, alokasi untuk Citilink hanya 37%.
"Fokus restrukturisasi kepada Citilink adalah untuk menghindari dampak risiko strategis dan dampak sosial terhadap masyarakat," jelas manajemen Garuda Indonesia.
Peningkatan modal Citilink diperkirakan akan dilakukan pada Desember 2025. Sebagian dana akan digunakan untuk pembayaran utang pokok pembelian bahan bakar pesawat Citilink kepada Pertamina sebesar US$ 225 juta.





