Demam kecerdasan buatan (AI) tengah melanda dunia teknologi, namun kekhawatiran akan terulangnya pecahnya gelembung teknologi seperti era dot-com tahun 2000 silam masih menghantui. Seorang bankir asing terkemuka, Hou Wey Fook, Chief Investment Officer (CIO) DBS Bank, justru memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, fenomena AI saat ini tidak sama dengan gelembung TMT (Teknologi, Media, dan Telekomunikasi) yang pernah terjadi. Informasi ini dilaporkan oleh jabarpos.id.
Wey Fook menjelaskan, gelembung TMT kala itu dipicu oleh pembiayaan sirkular di mana perusahaan telekomunikasi meminjam dana besar-besaran untuk membangun jaringan serat optik. Hal ini berujung pada kelebihan kapasitas dan akhirnya menyebabkan keruntuhan pasar. Kekhawatiran serupa muncul di sektor AI, di mana modal terlihat berputar antara perusahaan AI, penyedia cloud, dan investor.

Ia mencontohkan, NVIDIA berinvestasi pada startup AI, yang kemudian menggunakan platform GPU CUDA NVIDIA untuk pelatihan AI. Startup ini lalu mengumpulkan dana dari investor untuk membeli lebih banyak chip NVIDIA, menciptakan siklus positif yang berpotensi menimbulkan penumpukan berlebih.
Meski mengakui risiko penumpukan AI berlebih dari pembiayaan sirkular, Wey Fook menekankan bahwa para CEO perusahaan teknologi besar sepakat bahwa pada tahap awal adopsi AI, yang disebut revolusi industri keempat, pembiayaan sirkular ini justru diperlukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan siklus produk.
Perbedaan krusial lainnya dengan era dot-com adalah sumber pendanaan. Belanja modal (capex) perusahaan-perusahaan teknologi raksasa saat ini, seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon, sebagian besar dibiayai dari arus kas operasional mereka, bukan dari utang besar yang menumpuk.
Ia menyoroti Apple dan NVIDIA sebagai contoh perusahaan yang unggul karena kebutuhan capex mereka yang jauh lebih rendah berkat model bisnisnya. NVIDIA, misalnya, mengandalkan kekayaan intelektual (IP) dalam desain chip, menghasilkan margin kotor yang sangat besar, mencapai 78% untuk setiap chip GPU yang terjual, tanpa perlu membangun fasilitas manufaktur sendiri. Sementara Apple, dengan ekosistemnya yang terdiri dari sekitar 2,5 miliar perangkat aktif, menghasilkan pendapatan margin tinggi yang berulang dari layanan seperti App Store, iCloud, dan Apple Music, memberikan margin kotor 59% untuk setiap iPhone yang terjual.
Wey Fook melanjutkan, pecahnya gelembung dot-com sepenuhnya disebabkan oleh ekspektasi pertumbuhan pendapatan yang berlebihan yang tidak pernah terwujud. Banyak startup kala itu, seperti Pets.com, sahamnya melonjak setelah IPO namun segera jatuh ke nol karena tidak memiliki pendapatan riil. Berbeda dengan kondisi saat ini, perusahaan-perusahaan teknologi besar telah dan diperkirakan akan terus menghasilkan pertumbuhan pendapatan dua digit yang mengesankan dalam beberapa tahun mendatang, dengan visibilitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa AI tidak sedang berada dalam gelembung.
Di Amerika Serikat, Wey Fook menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi tambahan terbesar akan datang dari pengeluaran terkait AI. Tanpa investasi ini, pertumbuhan ekonomi AS secara keseluruhan diperkirakan akan lesu pada tahun 2026 karena mesin konsumsi dan perumahan yang melemah.
Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa pengeluaran capex yang besar dan berkelanjutan dapat menjadi hambatan signifikan bagi margin keuntungan, yang berpotensi menyebabkan koreksi harga saham-saham teknologi. Meskipun demikian, Wey Fook melihat lintasan jangka panjang untuk pertumbuhan pendapatan dua digit tetap utuh. Oleh karena itu, ia menyarankan untuk tetap berinvestasi pada perusahaan-perusahaan AI terbaik hingga tahun 2026.





