Beranda / Berita / Emas Bangkit dari Kubur, Perak Justru Terkapar! Ada Apa?

Emas Bangkit dari Kubur, Perak Justru Terkapar! Ada Apa?

Emas Bangkit dari Kubur, Perak Justru Terkapar! Ada Apa?

JABARPOS.ID – Harga emas dunia menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada perdagangan Jumat (20/3/2026), setelah sempat tertekan hebat sehari sebelumnya. Namun, nasib berbeda dialami perak yang justru terpuruk lebih dalam dengan volatilitas tinggi.

Data pasar menunjukkan harga emas spot naik tipis sekitar 0,3% ke level US$4.662,51 per ons, setelah sempat mencetak kenaikan lebih tinggi di awal sesi. Sementara itu, kontrak berjangka emas ditutup menguat 1,2% di kisaran US$4.662,10 per ons.

Baca juga:  Cuan Awal Tahun 8 Emiten Ini Siap Tebar Dividen
Emas Bangkit dari Kubur, Perak Justru Terkapar! Ada Apa?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berbanding terbalik, harga perak spot justru merosot sekitar 1,7% ke level US$71,62 per ons, meskipun sempat mengalami fluktuasi sepanjang sesi perdagangan. Perak berjangka masih mencatatkan kenaikan tipis sekitar 0,8%.

Meskipun emas mencoba bangkit, kedua logam mulia ini masih berada di jalur pelemahan mingguan. Emas berpotensi turun hampir 9% dalam sepekan, sementara perak bahkan merosot lebih dari 10%. Pada perdagangan Kamis, harga emas dan perak sempat anjlok sekitar 3% seiring aksi jual besar di pasar global.

Baca juga:  Raksasa Teknologi GoTo dan Grab Dikabarkan Akan Bersatu, Ini Kata Istana

Tekanan pada logam mulia ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak ekonomi dari konflik Iran. Volatilitas harga minyak sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran turut memengaruhi sentimen investor global. Harga minyak yang fluktuatif membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk logam mulia.

Analis SP Angel, Arthur Parish, menilai tekanan pada emas terjadi setelah reli panjang sebelumnya. "Kenaikan sebelumnya kini sudah sepenuhnya terurai. Banyak posisi berbasis momentum yang keluar dari pasar," ujarnya, dikutip dari CNBC.com, Jumat (20/3/2026).

Baca juga:  JabarPos.id, Jakarta - Sebelum era "Sembilan Naga" mendominasi perbincangan ekonomi Indonesia, ada sebuah kelompok pengusaha yang dikenal dengan julukan "Gang of Four" atau "Empat Sekawan". Mereka adalah Sudono Salim, Sudwikatmono, Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto, yang pada masa Orde Baru dianggap memiliki pengaruh signifikan dalam mengendalikan roda perekonomian nasional.

Parish menambahkan, reli sebelumnya banyak didorong oleh investor jangka pendek seperti hedge fund sistematis dan investor ritel. Kini, sebagian dari dana tersebut mulai keluar dari pasar. Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral global masih menjadi faktor pendukung jangka panjang.