Jabarpos.id – Bursa komoditas global dikejutkan dengan lonjakan transaksi kontrak minyak mentah bernilai ratusan juta dolar AS secara mendadak. Kejanggalan ini terjadi hanya beberapa menit sebelum pengumuman kontroversial Presiden AS, Donald Trump, tentang penundaan serangan terhadap fasilitas energi Iran, yang langsung memicu penurunan harga minyak hingga 14%.
Rachel Winter, Partner Killik & Co, seperti dilansir BBC International, menyoroti anomali waktu transaksi tersebut dan menduga adanya potensi insider trading atau pemanfaatan informasi orang dalam. Ia mendesak otoritas pengawas keuangan untuk segera melakukan investigasi menyeluruh guna memastikan legalitas transaksi fantastis ini.

"Sesaat sebelum Trump membuat pengumuman di media sosial, sejumlah besar orang mengambil kontrak yang memungkinkan mereka meraup untung dari penurunan harga minyak. Hal ini memicu spekulasi tentang insider trading. Kami tidak tahu apakah itu benar, tetapi kami berharap akan ada penyelidikan," ujar Winter, seperti dikutip jabarpos.id dari BBC International, Selasa (24/3/2026).
Data pasar menunjukkan lonjakan volume perdagangan yang signifikan sekitar 15 menit sebelum Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social pada Senin (23/3/2026) pukul 07.04 waktu setempat.
Pada pukul 06.49, tercatat 733 taruhan pada kontrak minyak WTI di New York Mercantile Exchange (Nymex). Hanya dalam satu menit, jumlahnya melonjak tajam menjadi 2.007 kontrak, setara dengan US$ 170 juta.
Mukesh Sahdev, Kepala Analis Minyak XAnalysts, sependapat bahwa lonjakan volume perdagangan dalam waktu singkat tersebut merupakan kondisi yang sangat tidak wajar. Menurutnya, penempatan dana dalam jumlah besar di tengah minimnya informasi publik menimbulkan kecurigaan.
"Pada saat itu, tidak ada indikasi bahwa pembicaraan serius telah terjadi antara AS dan Iran. Jadi, menempatkan begitu banyak uang pada penurunan minyak memunculkan pertanyaan besar," tegasnya.
Pola anomali serupa juga terlihat pada pergerakan kontrak minyak mentah Brent di pasar global. Volume perdagangan dilaporkan melonjak dari 20 menjadi lebih dari 1.600 kontrak senilai US$ 150 juta hanya dalam satu menit. Padahal, sehari sebelumnya pasar masih diliputi ketegangan akibat ancaman militer Trump ke Iran.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, membantah klaim adanya negosiasi damai dengan Washington. Ia menuding pernyataan sepihak tersebut sebagai kebohongan publik yang sengaja disebarkan untuk memanipulasi kondisi pasar.
"Berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari rawa tempat AS dan Israel terjebak," kata Ghalibaf melalui akun X-nya.
Bantahan tegas dari pemerintah Iran tersebut langsung direspons pasar dengan kembali merangkaknya bursa saham Asia pada hari Selasa.
Juru bicara Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan menoleransi pejabat mana pun yang terbukti mengambil keuntungan secara ilegal dari informasi orang dalam.





