jabarpos.id – Harga aluminium global melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir, memicu perbincangan hangat di kalangan pelaku industri. Gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia, wilayah yang memegang peranan penting dalam produksi aluminium dunia, menjadi pemicu utama kenaikan harga ini.
Data dari Trading Economics menunjukkan harga aluminium di Inggris mencapai US$3.390 per ton pada Maret lalu, level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Konflik regional di Teluk Persia, termasuk serangan Iran ke sejumlah target di negara-negara GCC, menyebabkan penghentian sementara aktivitas pemurnian aluminium di beberapa fasilitas industri.

Qatar terpaksa menghentikan operasi aluminium yang dijalankan bersama Norsk Hydro, perusahaan asal Norwegia. Sementara itu, Aluminium Bahrain (Alba), produsen aluminium terbesar di Bahrain, mengumumkan force majeure dan menghentikan pengiriman logam untuk sementara waktu. Kawasan Teluk sendiri menyumbang sekitar 10% pasokan aluminium primer dunia.
Kondisi ini diperparah dengan stok aluminium di gudang bursa yang berada di level rendah. Persediaan di London Metal Exchange dan COMEX tercatat mendekati titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, perhatian pasar tertuju pada China, produsen aluminium terbesar di dunia. Namun, ekspansi produksi di Negeri Tirai Bambu tersebut terbatas karena pemerintah China menetapkan batas produksi sekitar 45 juta ton untuk menahan kelebihan kapasitas di sektor industri logam.
Kondisi ini, seperti dilansir Bloomberg dan dikutip Business Times, turut mengangkat nama Zhang Bo, pengusaha aluminium asal China. Ia memimpin produsen aluminium raksasa China Hongqiao Group dan kini menjadi salah satu miliarder logam terbesar di Asia dengan kekayaan sekitar US$48 miliar atau sekitar Rp 809,04 triliun (US$1= Rp 16.855).
Nilai perusahaan tersebut melonjak sejak Zhang mengambil alih kepemimpinan pada 2019. Saham Hongqiao tercatat naik sekitar 585% dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan ini memasok aluminium untuk sejumlah perusahaan teknologi besar China seperti Huawei, Xiaomi, serta produsen kendaraan listrik BYD.
Strategi Hongqiao bertumpu pada penguasaan rantai pasok bahan baku. Perusahaan tersebut mengembangkan tambang bauksit di Guinea sejak pertengahan 2010-an. Sumber bahan baku ini kemudian diproses di fasilitas alumina, termasuk pabrik yang dibangun di Indonesia.
Model produksi ini membuat biaya operasional perusahaan relatif rendah dibanding pesaing. Hongqiao juga memindahkan sebagian kapasitas smelter ke provinsi Yunnan untuk memanfaatkan listrik tenaga air yang lebih murah.
Perubahan struktur permintaan aluminium ikut memperkuat posisi produsen besar. Logam ini digunakan secara luas dalam industri kendaraan listrik, panel surya, dan turbin angin. Kebutuhan dari sektor energi baru meningkat seiring ekspansi proyek energi bersih di berbagai negara.





