jabarpos.id – Harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi ekstrem dalam beberapa hari terakhir, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan spekulasi tentang potensi pelepasan cadangan minyak darurat global. Perubahan harga yang drastis ini menimbulkan pertanyaan besar tentang arah pasar energi ke depan.
Pada perdagangan hari ini, harga minyak Brent berada di kisaran US$87,95 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di US$83,76 per barel. Namun, volatilitas harga sangat terasa jika melihat pergerakan beberapa hari sebelumnya. Harga minyak sempat melonjak tajam sebelum akhirnya anjlok lebih dari 11% dalam sehari.

Pemicu utama penurunan harga adalah sinyal potensi meredanya konflik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS tentang kemungkinan berakhirnya perang dengan Iran lebih cepat dari perkiraan memicu aksi ambil untung besar-besaran.
Di tengah gejolak ini, pasar dikejutkan dengan laporan tentang usulan International Energy Agency (IEA) untuk melepas cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah. Langkah ini bertujuan untuk menutup potensi gangguan pasokan akibat perang Iran.
Namun, gangguan pasokan tetap menjadi ancaman nyata. Serangan drone di kilang minyak Abu Dhabi menambah daftar panjang masalah infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Selat Hormuz, jalur energi paling krusial di dunia, juga menjadi perhatian utama. Militer AS melaporkan telah menghancurkan sejumlah kapal Iran yang diduga digunakan untuk menebar ranjau di perairan tersebut.
Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan perang di kawasan Teluk dapat memangkas suplai minyak hingga 15 juta barel per hari. Dalam skenario terburuk, harga minyak bahkan bisa melonjak hingga US$150 per barel.
Di sisi lain, Arab Saudi berupaya mengalihkan distribusi minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, upaya ini belum cukup untuk menutupi berkurangnya pasokan dari Selat Hormuz.
Dari sisi permintaan, data American Petroleum Institute menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat di Amerika Serikat. Hal ini mengindikasikan konsumsi energi yang tetap kuat.





