Jabarpos.id – Siapa sangka, di balik kesuksesan bisnis Sudono Salim atau Liem Sioe Liong, ternyata ada peran seorang peramal sakti. Pertemuan tak terduga dengan Mochtar Riady di pesawat pada tahun 1975 menjadi awal mula kolaborasi yang mengubah sejarah perbankan Indonesia.
Kala itu, Riady mengungkapkan ambisinya untuk membangun bank baru. Salim yang sedang mencari sosok tepat untuk mengelola Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan Bank Central Asia (BCA), melihat Riady sebagai jawaban. Keputusan Salim memilih Riady ternyata bukan hanya didasari perhitungan bisnis semata.

Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku "Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto" mengungkapkan, Salim sering mengunjungi Gunung Kawi untuk meminta petunjuk dari peramal. "Sekembalinya dari Gunung Kawi (menemui peramal), dengan keyakinan dia berkata kalau ‘aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mochtar’," tulis mereka.
Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat ziarah dan mencari ramalan. Salim bahkan rela bolak-balik Surabaya-Gunung Kawi 3-5 kali setahun untuk berdiam diri di kuil China. Setiap akan memulai bisnis besar, ia selalu meminta saran peramal dan melakukan ritual khusus.
Menurut Richard dan Nancy, Salim sering menggunakan cara-cara gaib untuk memutuskan langkah bisnis. Ia akan menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi lidi bertuliskan ramalan, lalu meminta rahib atau peramal untuk menafsirkannya.
Kepercayaan Salim pada hal mistik sangat kuat. Ia tak ingin salah langkah dan merugi jika tidak mengikuti saran peramal. Bahkan, saat memulai kerjasama dengan ‘Gang of Four’ pada tahun 1968, Salim bersikeras memilih ruangan kecil yang sesak karena dianggap memiliki feng shui yang baik. Keputusan ini terbukti membawa keberuntungan bagi bisnis mereka.
Berkat kepercayaannya pada hal mistik, bisnis Salim terus berkembang pesat hingga menjadikannya salah satu konglomerat terkaya di Indonesia.





