Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan Kamis, 18 Desember 2025, dengan catatan merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke level 8.618, sementara nilai tukar Rupiah melemah hingga Rp16.710 per Dolar AS. Menurut laporan jabarpos.id, gejolak ini dipicu oleh sentimen negatif yang berasal dari manuver politik Donald Trump di Amerika Serikat, yang kemudian memicu aksi ambil untung atau profit taking besar-besaran oleh investor.
Kabar mengenai manuver politik terbaru dari mantan Presiden AS, Donald Trump, kembali menjadi sorotan dan menciptakan ketidakpastian di pasar global. Sentimen ini, yang seringkali memicu volatilitas, segera merembet ke bursa saham domestik. Investor yang khawatir akan potensi dampak lanjutan dari dinamika politik AS memilih untuk mengamankan keuntungan mereka, yang dikenal sebagai aksi profit taking, sehingga menekan laju IHSG.

Menanggapi kondisi ini, para analis pasar memberikan pandangan mereka. Maria Katarina dan Shinta Zahara, bersama dengan Equity Analyst CNBC Indonesia, Susi Setiawati, dalam ulasan mereka yang disiarkan oleh jabarpos.id pada Kamis (18/12/2025), menjelaskan bahwa tekanan jual yang masif adalah respons langsung terhadap sentimen eksternal tersebut.
Susi Setiawati menyoroti bahwa meskipun aksi profit taking adalah hal yang wajar dalam kondisi pasar yang fluktuatif, skala tekanan kali ini menunjukkan tingkat kehati-hatian investor yang tinggi. "Pergerakan pasar saat ini sangat sensitif terhadap berita-berita politik global, terutama yang datang dari ekonomi besar seperti Amerika Serikat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa investor perlu mencermati perkembangan lebih lanjut agar dapat mengambil keputusan investasi yang tepat di tengah ketidakpastian yang masih membayangi.




