Tahun 2025 menjadi saksi bisu gejolak hebat nilai tukar rupiah yang terombang-ambing di tengah badai ekonomi global. Mata uang Garuda sempat terperosok ke level terendah sepanjang sejarah, dengan dolar Amerika Serikat (AS) menembus angka psikologis Rp17.000. Informasi ini diungkapkan oleh jabarpos.id, menyoroti periode krusial saat Indonesia dilanda libur panjang Lebaran.
Puncak kemelut terjadi pada awal April 2025. Saat sebagian besar masyarakat Indonesia menikmati libur Lebaran, di pasar keuangan non-deliverable forward (NDF) yang beroperasi di pusat-pusat finansial global seperti Singapura dan London, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai Rp17.059 pada 6 April. Kondisi ini memburuk drastis keesokan harinya, 7 April, ketika rupiah menyentuh Rp17.261 per dolar AS, sebuah rekor terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kekhawatiran akan pelemahan signifikan di pasar spot terbukti. Setelah libur panjang, pada 8 April 2025, perdagangan spot dibuka dengan rupiah ambruk 1,78% ke Rp16.850 per dolar AS, dan ditutup di Rp16.860. Depresiasi berlanjut, bahkan sempat menyentuh Rp16.970 pada 9 April, sebelum akhirnya dolar seharga Rp16.795, level ini menjadi yang tertinggi hingga 22 Desember 2025.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengakui bahwa proyeksi kurs rupiah dalam Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2025 sebesar Rp15.285 per dolar AS meleset jauh dari realitas. Perry menyatakan, rupiah sempat menyentuh level Rp17.000-an, jauh di atas perkiraan, memaksa BI melakukan intervensi besar-besaran.
Untuk menstabilkan nilai tukar, BI harus menguras cadangan devisa. Dari US$157 miliar pada Maret 2025, cadangan devisa merosot hingga US$149 miliar pada akhir September 2025, meskipun kemudian sedikit membaik menjadi US$150,1 miliar pada November. Intervensi ini, kata Perry, merupakan respons terhadap kebijakan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump yang memicu ketidakpastian global.
Apa yang Menyebabkan Rupiah Ambruk?
Lantas, apa saja pemicu utama di balik ambruknya rupiah hingga mencapai titik terendah yang bahkan melampaui krisis 1998? Setidaknya ada tiga faktor krusial yang diidentifikasi:
-
Kebijakan Tarif Donald Trump: Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif resiprokal yang tinggi, termasuk tarif dasar 10% untuk semua impor dan bea masuk lebih tinggi untuk puluhan negara, sangat memukul Indonesia. Negara kita, yang dianggap menyumbang defisit perdagangan AS, terkena dampak sebesar 32%. Ketidakpastian akibat perang dagang ini memicu eksodus investor asing dari pasar keuangan Indonesia.
-
Penurunan Suplai Dolar AS: Analisis Bahana Sekuritas menunjukkan bahwa penetapan tarif antara AS dan mitra dagangnya berpotensi mengurangi surplus perdagangan bulanan Indonesia secara drastis, dari sekitar US$3 miliar menjadi US$700-900 juta. Hal ini diproyeksikan memperlebar defisit transaksi berjalan pada 2025 menjadi 0,9% dari PDB, yang pada gilirannya menekan pasokan dolar AS di dalam negeri dan melemahkan rupiah.
-
Potensi Resesi di AS: Sejumlah lembaga riset global, termasuk JPMorgan dan S&P Global, telah memperingatkan risiko resesi ekonomi global yang meningkat akibat kebijakan tarif impor baru AS. JPMorgan menaikkan perkiraan risiko resesi global menjadi 60% sebelum akhir tahun 2025, sementara S&P Global menaikkan kemungkinan resesi di AS menjadi 30-35%. Lembaga lain seperti Barclays dan UBS juga mengindikasikan risiko kontraksi ekonomi AS, yang tentu saja berdampak domino ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Cobaan Datang di Akhir Tahun
Setelah periode gejolak di awal tahun, rupiah sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan fase bullish sesaat. Setidaknya dalam kurun waktu sebulan, dolar berhasil turun ke level Rp16.170 pada pembukaan perdagangan 26 Mei 2025, menguat 4,71% dari harga tertingginya. Namun, cobaan datang lagi di akhir tahun. Sejak akhir kuartal kedua, rupiah kembali melemah, bahkan pada 22 Desember 2025, dolar melampaui level April dengan penutupan di Rp16.765 per dolar AS. Pelemahan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) di pasar global yang bertahan di kisaran 97,95.
Fokus pasar kala itu tertuju pada rilis data awal Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal III, yang krusial untuk mengukur ketahanan ekonomi Paman Sam dan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan. Investor memproyeksikan The Fed berpotensi memangkas suku bunga dua kali pada tahun berikutnya, seiring data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan.
BI Tegaskan Rupiah Tetap Stabil
Menjelang penutupan tahun, Bank Indonesia tetap menegaskan stabilitas rupiah. Gubernur Perry Warjiyo pada 25 Desember 2025 menyatakan bahwa nilai tukar rupiah per 16 Desember 2025 berada di level Rp16.685 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan akhir November. BI terus menjaga stabilitas melalui berbagai skema intervensi, termasuk di pasar NDF offshore dan domestik, pasar spot, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Tambahan pasokan valas dari korporasi berkat kebijakan penguatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) juga turut membantu menjaga rupiah tetap terkendali.





