Jabarpos.id, Jakarta – Industri otomotif Indonesia sedang menghadapi badai tantangan. Daya beli masyarakat yang melemah, suku bunga tinggi, dan pengetatan kredit kendaraan bermotor menjadi momok menakutkan. Lebih lanjut, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menembus Rp17.000, berpotensi memicu kenaikan harga mobil di tanah air.
Sebagian besar komponen otomotif masih diimpor. Jika rupiah terus melemah, produsen terpaksa menaikkan harga jual kendaraan. "Jika harga komponen meningkat akibat pelemahan nilai tukar, maka produsen berpotensi menaikkan harga kendaraan. Kenaikan harga di tengah melemahnya daya beli masyarakat dinilai dapat menjadi tantangan serius bagi industri otomotif nasional," ujar Marketing and Customer Relation Division Head PT Astra International Tbk – Daihatsu Sales Operation (AI DSO) Tri Mulyono, seperti dikutip jabarpos.id, Minggu (22/3/2026).

Penjualan mobil secara wholesales sepanjang 2025 hanya mencapai 803.687 unit, turun 7,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Memasuki 2026, pemulihan pasar belum signifikan, dengan total penjualan mobil baru di dua bulan pertama hanya 145.228 unit. Segmen kendaraan kelas menengah yang mengandalkan kredit paling merasakan dampaknya.
Tri Mulyono menyoroti kehati-hatian lembaga pembiayaan dalam menyalurkan kredit kendaraan bermotor. Hal ini mempersulit konsumen untuk membeli mobil baru. "Lembaga pembiayaan kini lebih selektif dalam menyalurkan kredit, sehingga memengaruhi penjualan kendaraan baru," jelas Tri.
Penjualan Daihatsu sepanjang 2025 turun 19,8% menjadi 130.677 unit. Namun, ada sedikit angin segar di awal 2026, dengan penjualan mencapai 25.965 unit, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.





