jabarpos.id – Hampir separuh dari divisi keuangan di Indonesia mengakui bahwa ancaman keamanan siber menjadi batu sandungan utama dalam mewujudkan transaksi treasury secara real time. Fakta ini terungkap dalam survei terbaru HSBC, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kekhawatiran tertinggi di antara delapan negara yang disurvei.
Ray Suvrodeep, Head of Treasury Solutions Group, Global Payments Solutions HSBC Singapura, mengungkapkan bahwa di tengah ketidakpastian global, departemen keuangan di Asia Pasifik dituntut untuk terus beradaptasi, termasuk memenuhi kebutuhan perbendaharaan secara real-time.

"Perbendaharaan yang efektif membutuhkan akses informasi dan kemampuan bertindak secara real-time. Kelincahan dalam mengelola ketidakpastian dan beralih ke model treasury real-time menjadi kebutuhan mendesak bagi Departemen Keuangan," ujar Suvrodeep dalam media briefing HSBC secara virtual, Kamis (16/10/2025).
Kapabilitas treasury real-time menjanjikan peningkatan efisiensi dan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat. Namun, transisi ini tidaklah mudah. Suvrodeep menyoroti kurangnya sumber daya terampil dan anggaran yang memadai sebagai tantangan utama.
Survei HSBC bertajuk "AI dan Tren Digitalisasi Keuangan Perusahaan Masa Depan" menunjukkan bahwa 48% divisi treasury di Indonesia menganggap risiko siber sebagai penghalang utama. Perlindungan dan keamanan data menjadi isu krusial, terutama dengan maraknya kasus kebocoran data pribadi belakangan ini.
Di sisi lain, para treasurer di Indonesia menyadari potensi besar otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan efisiensi dan pengambilan keputusan. AI diyakini mampu memberikan prediksi yang lebih akurat terkait proyeksi arus kas dan transaksi lindung nilai (hedging), terutama dalam menghadapi volatilitas mata uang dan suku bunga.





