jabarpos.id – Eropa kembali menyoroti kondisi keuangan Yunani. Negara yang sempat terpuruk akibat krisis satu dekade lalu ini, kini menghadapi tantangan baru yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonominya.
Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) dalam laporan terbarunya memperingatkan, kemampuan bank-bank Yunani dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masih terbatas. Beban utang swasta yang belum terselesaikan menjadi batu sandungan utama.

Sebagian besar utang bermasalah kini berada di luar sistem perbankan. Kondisi ini menyulitkan bank untuk menyalurkan pembiayaan secara optimal, meskipun indikator kinerja mereka telah membaik, seperti yang dilaporkan jabarpos.id.
Sektor perbankan Yunani pernah mengalami kerugian besar saat krisis 2010 dan 2015. Kredit macet (NPL) mencapai hampir 50% dari total portofolio pinjaman mereka, simpanan berkurang setengahnya, dan menderita kerugian miliaran dolar.
Seiring membaiknya kondisi ekonomi, perbankan Yunani mulai bangkit. Likuiditas meningkat, profitabilitas membaik, dan modal bank menjadi lebih kuat. Kredit kepada perusahaan non-keuangan tercatat meningkat signifikan, sementara kredit perumahan mulai pulih.
Empat bank terbesar Yunani yakni National Bank, Eurobank, Piraeus, dan Alpha Bank bahkan mencatat laba bersih gabungan hampir 5 miliar euro pada 2025. Rasio kredit bermasalah mereka juga turun drastis menjadi di bawah 4%, mendekati rata-rata perbankan Eropa.
Pemerintah Yunani juga telah merampungkan privatisasi keempat bank tersebut pada 2024, setelah sebelumnya menyuntikkan dana talangan hingga 50 miliar euro saat krisis. ECB pun telah mengizinkan bank kembali membagikan dividen setelah 16 tahun.
Namun, di balik pemulihan ini, masalah struktural masih membayangi. Yunani sebelumnya memindahkan sekitar 57 miliar euro kredit bermasalah ke pasar sekunder melalui skema perlindungan aset. Akibatnya, banyak utang kini ditangani oleh perusahaan pengelola pinjaman, bukan bank.
Dampaknya, rumah tangga dan pelaku usaha yang masih memiliki utang bermasalah menjadi sulit mengakses kredit baru. ECB menilai kondisi ini membatasi kemampuan perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.
Nilai aset bermasalah tersebut bahkan setara dengan sekitar sepertiga produk domestik bruto (PDB) Yunani. ECB menegaskan, penyelesaian utang bermasalah ini masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi negara tersebut ke depan.





