Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kurang memuaskan pada perdagangan hari ini, Jumat (27/3/2027). Sempat terperosok lebih dari 1% di sesi awal, IHSG akhirnya menutup perdagangan dengan penurunan signifikan. IHSG ditutup pada level 7.097,06, terkoreksi 67,03 poin atau -0,94%.
Kondisi pasar saham hari ini diwarnai oleh dominasi saham-saham yang melemah. Tercatat 396 saham mengalami penurunan, berbanding terbalik dengan hanya 292 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. Sementara itu, 270 saham lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan juga terpantau lesu dengan total nilai transaksi hanya mencapai Rp 11,64 triliun. Sebanyak 18,83 miliar saham berpindah tangan dalam 1,38 juta kali transaksi. Akibatnya, kapitalisasi pasar pun ikut tergerus menjadi Rp 12.516 triliun.
Saham Bank Central Asia (BBCA) menjadi yang paling banyak diperdagangkan hari ini. Namun, ironisnya, aksi jual mendominasi saham emiten grup Djarum tersebut, dengan total transaksi mencapai Rp 4,14 triliun atau hampir 36% dari total transaksi perdagangan. Tekanan jual ini menyebabkan harga saham BBCA turun 2,55% ke level 6.700. Investor asing juga tercatat melakukan net sell sebesar Rp 609 miliar pada saham BBCA. Menurut data Refinitiv, BBCA menjadi pemberat utama IHSG dengan bobot -16,58 indeks poin.
Selain BBCA, saham-saham big cap lainnya seperti Telkom (TLKM) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga turut menekan pergerakan IHSG masing-masing sebesar -12,62 indeks poin dan -11 indeks poin.
Secara regional, pergerakan IHSG sejalan dengan sebagian bursa di kawasan Asia. Namun, setelah sempat mengalami penurunan tajam, beberapa bursa di Asia berhasil memangkas koreksi, bahkan ada yang berhasil mencatatkan pertumbuhan positif.
Ketidakpastian global, terutama terkait wacana gencatan senjata antara AS-Israel terhadap Iran, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Pelaku pasar kini lebih fokus pada dampak nyata dari situasi geopolitik tersebut terhadap kebijakan, industri, dan ekonomi riil di berbagai negara, terutama setelah adanya potensi blokade Selat Hormuz.
Di sisi lain, harga minyak kembali menguat. Kontrak West Texas Intermediate naik ke US$96,41, sementara Brent crude oil berada di level US$110,21 per barel.





