Jabarpos.id – Kekayaan melimpah ruah ternyata tak selalu menjamin ketenangan hati. Hal inilah yang dirasakan oleh Masagung, seorang pengusaha sukses keturunan Tionghoa yang dikenal sebagai pemilik jaringan Toko Buku Gunung Agung.
Gunung Agung, yang awalnya hanya toko buku, kemudian berkembang pesat ke berbagai sektor seperti pariwisata, perhotelan, hingga jasa penukaran uang. Kesuksesan ini mengantarkan Masagung pada puncak kekayaan.

"Ia enggan menyebutkan jumlah kekayaannya. Tetapi, jumlah pajak yang harus dibayarnya secara grup mencapai Rp200 juta. Untuk bea cukai sebesar Rp 2 miliar. Belum termasuk pajak pendapatan dari 2.000 lebih karyawannya," tulis penulis buku Apa dan Siapa? (2004) saat menanyakan kekayaan Masagung.
Namun, kekayaan tersebut justru menimbulkan keresahan dalam diri Masagung. Ia khawatir kekayaan itu justru akan menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan, seperti yang diungkapkan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (2009).
Titik balik terjadi ketika Masagung bertemu dengan Ibu Tien Fuad Muntaco, seorang ahli hipnotisme dan telepati. Pertemuan inilah yang kemudian mengantarkan Masagung menjadi seorang mualaf.
"Usai pertemuan itu, dia jatuh di bawah pengaruh spiritual Ibu Tien dan memutuskan untuk memeluk agama Islam (Sebelumnya dia memeluk agama Hindu)," tulis Lombard.
Pengaruh Islam membawa perubahan signifikan dalam hidup Masagung. Leo Suryadinata dalam Southeast Asian Personalities of Chinese Descent (2012) mencatat bahwa Masagung menjadi lebih Islami dan bahkan menjadi tokoh penyebaran ajaran Islam.
Masagung mendirikan Yayasan Jalan Terang untuk membiayai pembangunan masjid, rumah sakit, dan museum Wali Songo. Ia juga aktif dalam kegiatan dakwah dan menerbitkan buku-buku Islami.
"Setelah mengalami masa muda yang resah, tindakan Masagung untuk merangkul tradisi Jawa dan kegemarannya pada kebatinan merupakan langkah-langkah maju," puji Lombard.
Hingga akhir hayatnya pada 24 September 1990, Masagung tak pernah lelah menyebarkan ajaran Islam.





