jabarpos.id – Kasus penipuan yang menggemparkan Indonesia puluhan tahun silam kembali mencuat. Ironisnya, korban dari aksi kejahatan ini bukan hanya masyarakat biasa, melainkan para pejabat tinggi negara, bahkan menyeret nama besar Presiden Soekarno.
Kisah ini bermula pada tahun 1957, ketika seorang pria bernama Idrus, yang mengaku sebagai pangeran dari Palembang, muncul di hadapan publik. Dengan penampilan meyakinkan layaknya tokoh sipil-militer, Idrus berhasil menarik perhatian banyak orang. Ia beralasan kedatangannya ke Jakarta adalah karena konflik di wilayahnya dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Klaim Idrus ini, seperti yang dilaporkan koran Belanda Het Parool pada tahun 1958, akhirnya dipercaya oleh banyak pihak, termasuk walikota Palembang saat itu. Hal ini membuka jalan bagi Idrus untuk bertemu langsung dengan Soekarno di Istana Negara pada 10 Maret 1958, sebagaimana yang diberitakan Nieuwsblad van het Zuiden.
Dalam pertemuan tersebut, Idrus memperkenalkan diri sebagai bangsawan dan raja dari Suku Anak Dalam. Padahal, faktanya, Suku Anak Dalam tidak memiliki sistem kerajaan, melainkan dipimpin oleh seorang kepala suku. Soekarno yang terpedaya dengan mudahnya mempercayai klaim palsu tersebut. Idrus pun diperlakukan layaknya seorang raja, dijamu dengan berbagai kemewahan, termasuk berkeliling kota dengan biaya negara dan pengawalan ketat dari kepolisian.
Aksi penipuan ini terus berlanjut hingga Idrus bertemu dengan seorang wanita bernama Markonah di Bandung. Keduanya kemudian menikah dan memperkenalkan diri sebagai raja dan ratu saat berkeliling Pulau Jawa.
Namun, kebohongan ini akhirnya terbongkar di Madiun. Kecurigaan pihak berwenang muncul karena perilaku keduanya tidak mencerminkan seorang bangsawan. Setelah diinterogasi, terungkap bahwa Idrus hanyalah seorang kepala desa, sementara Markonah adalah wanita biasa.
Kasus ini kemudian dibawa ke pengadilan. Meskipun keduanya mengaku bersalah dan memohon keringanan hukuman, majelis hakim tetap menjatuhkan vonis 9 bulan penjara. Kasus penipuan ini menjadi buah bibir di masyarakat, mengingat banyaknya pejabat tinggi negara yang menjadi korban, termasuk presiden pertama RI.



