jabarpos.id – Kabar baik menghampiri perekonomian Indonesia! Manajer Investasi global, PT Henan Putihrai Asset Management (Henan Asset), melihat geliat positif dari sejumlah kebijakan dan indikator ekonomi sepanjang Juli 2025. Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan menjadi 5,25%, menjadi salah satu pemicu optimisme tersebut.
Realisasi anggaran bantuan sosial (bansos) yang mencapai 56% pada semester I-2025 membuka ruang bagi pemerintah untuk mengalihkan fokus belanja ke program fiskal yang lebih produktif. Rencana ekspansi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan suntikan dana ke bank BUMN untuk kredit berbunga rendah semakin memperkuat komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lonjakan permintaan obligasi pemerintah dan korporasi menjadi bukti nyata kepercayaan pasar. Penerbitan obligasi korporasi baru mencapai Rp40 triliun, sementara lelang obligasi pemerintah dibanjiri permintaan hingga Rp106 triliun untuk obligasi konvensional dan Rp40-50 triliun untuk obligasi syariah.
Kabar baik juga datang dari pasar saham. Keputusan Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) untuk tidak lagi menerapkan status Unusual Market Activity (UMA) atau Full Call Auction (FCA) sebagai kriteria pemblokiran saham masuk indeks MSCI membuka peluang lebih banyak saham Indonesia masuk indeks global.
Negosiasi pemerintah yang berhasil memangkas tarif ekspor ke AS dari 32% menjadi 19% menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tarif terendah bersama Thailand dan Kamboja di antara negara ASEAN dan Asia utama. Sektor industri padat karya seperti tekstil dan garmen akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kesepakatan ini.
Namun, beberapa sektor seperti industri sepatu, elektronik, dan furnitur masih menghadapi tantangan biaya akibat tarif impor bahan baku dan peningkatan biaya produksi.
Memasuki Agustus 2025, pasar keuangan Indonesia menunjukkan momentum positif yang didorong oleh kebijakan moneter dan fiskal yang semakin terkoordinasi. Optimisme pasar terus terjaga seiring pemangkasan suku bunga acuan pada Juli lalu, penguatan likuiditas di pasar obligasi, serta peluncuran paket stimulus Rp 24,4 triliun. Kebijakan percepatan program MBG juga akan memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Riset Henan Asset mengungkapkan bahwa saat ini adalah waktu tepat bagi investor untuk memanfaatkan kondisi pasar dengan memperhatikan sektor-sektor yang mendapat dukungan kebijakan pemerintah.
Meskipun pasar menunjukkan kinerja positif, tantangan eksternal tetap ada dan perlu diwaspadai investor. Perjanjian perdagangan Indonesia-AS yang mengamankan tarif ekspor 19% memberi Indonesia keunggulan kompetitif di sektor tekstil dan garmen. Namun, industri lainnya seperti sepatu, elektronik, dan furnitur tetap menghadapi tekanan dari barang impor AS yang hampir bebas tarif.
Selain itu, meskipun pasar obligasi dan saham Indonesia tetap menarik, investor perlu mewaspadai fluktuasi yang dipengaruhi oleh ketidakpastian politik dan ekonomi global.
Dalam konteks ini, penting bagi investor untuk tidak hanya bereaksi terhadap gejolak jangka pendek, melainkan juga untuk merancang strategi investasi yang fleksibel dan berbasis pada analisis mendalam.





