Jabarpos.id – Rupiah terus merana hingga menyentuh angka Rp16.700 per dolar AS. Rupiah tertekan, saham perbankan lesu, apa yang sebenarnya terjadi? Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, mengungkapkan bahwa penguatan saham sektor perbankan yang sempat terjadi didorong oleh pertumbuhan laba bersih dan harga saham yang dianggap murah. Namun, saat ini laba bersih bank-bank besar di Indonesia sedang mengalami tekanan, membuat investor asing kurang tertarik.
Kondisi serupa juga terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), di mana terjadi arus keluar modal asing (outflow). Meskipun investor institusi lokal masih menjadi penopang dengan berinvestasi pada obligasi pemerintah, hal ini belum cukup kuat untuk menahan pelemahan Rupiah. Bank Indonesia (BI) pun terpaksa menggunakan cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar Rupiah.

Menghadapi situasi pasar yang penuh tantangan ini, Panin AM menerapkan sejumlah strategi investasi. Untuk Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income), mereka memilih investasi jangka panjang. Saat imbal hasil (yield) obligasi turun di bawah 6%, mereka melakukan aksi ambil untung (profit taking). Sementara itu, untuk investasi saham, mereka lebih berhati-hati, terutama dalam mempertimbangkan valuasi.
Lantas, bagaimana prospek saham, SBN, dan reksa dana di tengah pelemahan Rupiah dan berbagai sentimen dari dalam dan luar negeri? Simak selengkapnya dalam dialog Andi Shalini dengan Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, di Squawk Box, CNBC Indonesia (Jum’at, 07/11/2025).




