Harga emas, perak, tembaga, dan timah serentak mencapai rekor tertinggi baru pada hari Rabu. Lonjakan dramatis ini, seperti dilaporkan jabarpos.id, dipicu oleh kekhawatiran global akan potensi intervensi militer Amerika Serikat di Iran serta isu krusial terkait independensi Federal Reserve, menciptakan gelombang kejutan di pasar komoditas.
Emas, yang telah melonjak 8% sejak awal tahun dan berlipat ganda dalam waktu kurang dari dua tahun, kini menyentuh US$4.641 per troy ounce, naik 1,1%. Aksi investor mencari aset safe haven menjadi pendorong utama. Perak juga tak mau ketinggalan, menembus angka US$90 untuk pertama kalinya dan mencapai US$92,24, melonjak 6%. Sementara itu, tembaga dan timah, yang telah mengalami reli kuat dalam beberapa bulan terakhir, masing-masing mencetak rekor US$13.407 dan US$54.760 per ton.

Helen Amos, seorang analis dari BMO, mengakui bahwa "segalanya bergerak begitu cepat, harga melampaui perkiraan semua orang." Ia juga menyoroti keunikan situasi ini: "Tidak ada preseden yang saya ingat dalam 20 tahun terakhir" untuk keempat logam ini mencapai puncaknya secara bersamaan. Puncak simultan yang langka ini mencerminkan kecemasan investor terhadap ketidakstabilan global yang meningkat.
Ketegangan geopolitik menjadi pendorong utama. Kurang dari seminggu setelah AS menginvasi Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro, perhatian kini beralih ke Iran. Protes besar-besaran di sana, ditambah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan bantuan Amerika kepada demonstran, memicu spekulasi intervensi militer. Fenomena ini, menurut analis Panmure Liberum, Tom Price, merupakan "perdagangan momentum global" yang membawa kita ke "wilayah yang belum dipetakan," terutama karena logam dasar seperti tembaga dan timah jarang dipengaruhi oleh faktor geopolitik. Price menambahkan, "Untuk tembaga dan timah, ini tidak ada hubungannya dengan pendorong konvensionalnya, faktor penawaran dan permintaannya."
Di sisi lain, kekhawatiran tentang independensi bank sentral AS, Federal Reserve, semakin memanas. Ketua Fed, Jerome "Jay" Powell, mengungkapkan bahwa jaksa AS sedang menyelidiki dirinya terkait renovasi kantor pusat. Powell menuduh ini adalah "dalih" untuk membatasi independensi Fed di tengah tekanan Gedung Putih untuk memangkas suku bunga. Rhona O’Connell, analis StoneX, menyebut penyelidikan ini "memperburuk ketidakpastian" dan memberikan "dorongan jangka panjang" bagi emas dan perak.
Selain itu, potensi tarif AS terhadap tembaga dan perak juga menciptakan penumpukan logam fisik yang tidak biasa di dalam negeri. Untuk timah, penutupan tambang utama di Myanmar selama bertahun-tahun telah memangkas produksi global, turut mendorong harganya.
Kombinasi faktor geopolitik, ekonomi, dan pasokan telah menciptakan badai sempurna yang mendorong harga logam ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya, meninggalkan pasar dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.





