Jabarpos.id, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya buka suara terkait fenomena saham-saham, termasuk CDIA, yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh konglomerat dan dampaknya terhadap performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik terkait lonjakan harga saham CDIA yang signifikan dalam waktu singkat.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan bahwa pergerakan saham-saham tersebut adalah bagian dari dinamika pasar yang wajar. Menurutnya, fluktuasi harga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap perusahaan, yang dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran.

"Pergerakan harga saham di pasar sangat ditentukan oleh mekanisme supply dan demand serta pertimbangan investor atas informasi yang tersedia di publik, baik terkait kinerja keuangan, rencana bisnis, maupun sentimen global dan domestik," ujar Nyoman kepada Jabarpos.id, Kamis (24/7/2025).
BEI, sebagai self-regulatory organization (SRO), menyatakan tidak memiliki kebijakan diskriminatif terhadap emiten berdasarkan kepemilikan atau afiliasi pemegang saham pengendalinya. "Kami memperlakukan seluruh emiten secara setara dan memastikan bahwa seluruh transaksi dilakukan berdasarkan prinsip keterbukaan, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi. Selama pergerakan saham terjadi secara wajar maka pergerakan tersebut merupakan bagian dari dinamika pasar yang sah," tegasnya.
Jabarpos.id mencatat, BEI juga terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pihak terkait lainnya untuk menjaga integritas dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia. BEI mengimbau investor untuk melakukan analisis mendalam sebelum berinvestasi, mempertimbangkan fundamental perusahaan, risiko investasi, dan memanfaatkan informasi publik yang tersedia.
Sebelumnya, IHSG sempat mencatatkan reli penguatan selama 11 hari berturut-turut, sebelum akhirnya terkoreksi pada Selasa (22/7/2025). Penguatan IHSG belakangan ini ditopang oleh saham-saham perbankan dan blue chip, termasuk DCI Indonesia (DCII) dan Chandra Daya Investasi (CDIA).
Sebagai informasi tambahan, saham CDIA milik konglomerat Prajogo Pangestu saat ini tengah disuspensi sementara oleh BEI karena mengalami peningkatan harga kumulatif yang signifikan. Saham CDIA resmi melantai di BEI pada 9 Juli 2025 dan telah melonjak 700% ke level 1.515, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 189,12 triliun.





