Keturunan Tionghoa telah lama dikenal memiliki keahlian luar biasa dalam mengelola keuangan dan membangun kerajaan bisnis. Dari usaha kecil hingga raksasa global, kisah sukses mereka seringkali menjadi inspirasi. Sebuah laporan dari jabarpos.id mengungkap lima strategi kunci yang mereka terapkan, bukan hanya sekadar menabung uang tunai, untuk mencapai kemandirian finansial dan kekayaan berlimpah.
Fenomena keberhasilan finansial kaum Tionghoa bukanlah isapan jempol belaka. Tengok saja Jack Ma, pendiri Alibaba, yang namanya melambung sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Kesuksesan ini ternyata berakar pada prinsip-prinsip yang sudah mengakar kuat dan diwariskan secara turun-temurun.

1. Prioritaskan Menabung sebagai Kewajiban Utama
Berbeda dengan kebiasaan umum yang menabung sisa pengeluaran, orang Tionghoa menjadikan tabungan sebagai pos pengeluaran pertama. Begitu gaji atau pendapatan diterima, sebagian besar langsung disisihkan, seringkali mencapai 50% dari pendapatan bulanan. Sisa dana barulah dialokasikan untuk kebutuhan lainnya. Filosofi ini menekankan pentingnya disiplin finansial sebagai fondasi kekayaan, memastikan pengeluaran tidak pernah melebihi pendapatan.
2. Hidup Sederhana dan Jauh dari Gengsi
Gaya hidup hemat dan sederhana adalah ciri khas lain yang menonjol. Keluarga Tionghoa umumnya menjalani kehidupan dengan bersahaja dan cenderung menghindari pengeluaran konsumtif yang hanya bertujuan mengejar status atau gengsi. Uang yang seharusnya digunakan untuk barang mewah atau gaya hidup boros, justru dialihkan untuk investasi yang lebih produktif. Fokus utama mereka adalah keamanan finansial jangka panjang, bukan kepuasan sesaat.
3. Investasi Cerdas untuk Pertumbuhan Kekayaan
Selain menabung, investasi menjadi pilar penting dalam strategi keuangan mereka. Kaum Tionghoa memahami bahwa uang harus bekerja untuk menghasilkan lebih banyak uang. Bentuk investasi yang dilakukan pun bervariasi, mulai dari membangun bisnis, memiliki properti, hingga membeli instrumen keuangan lainnya yang disesuaikan dengan tujuan finansial. Diversifikasi investasi adalah kunci untuk mempercepat akumulasi kekayaan dan melindungi aset.
4. Anti Utang Konsumtif yang Tidak Produktif
Prinsip kuat lainnya adalah menghindari utang yang tidak produktif. Utang dianggap sebagai beban jika tidak digunakan untuk menghasilkan nilai tambah atau investasi. Mereka sangat selektif dalam berutang, lebih memilih menggunakan modal sendiri atau utang yang bersifat produktif untuk pengembangan bisnis, bukan untuk memenuhi gaya hidup atau keinginan sesaat yang tidak memberikan keuntungan finansial.
5. Pekerja Keras dan Ulet dengan Visi Jangka Panjang
Etos kerja yang tinggi adalah fondasi dari semua strategi di atas. Kaum Tionghoa dikenal sangat ulet, teliti, dan tidak mudah menyerah dalam pekerjaan mereka. Mereka percaya bahwa masa muda adalah waktu untuk bekerja keras demi menjamin masa depan yang lebih baik. Dalam berdagang, mereka tidak hanya fokus pada besarnya keuntungan yang diperoleh, melainkan kecepatan perputaran modal. Ini memastikan aliran kas yang sehat dan berkelanjutan, sebuah prinsip yang diajarkan sejak dini.
Kisah sukses Jack Ma dan banyak pengusaha Tionghoa lainnya adalah bukti nyata dari penerapan prinsip-prinsip ini. Dari prioritas menabung, hidup hemat, investasi cerdas, menghindari utang konsumtif, hingga etos kerja keras, strategi keuangan ala Tionghoa menawarkan pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin membangun kekayaan dan mencapai kemandirian finansial di era modern.





