Jabarpos.id, Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, angkat bicara soal fluktuasi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat memicu trading halt beberapa kali pada pekan lalu. Ia meminta semua pihak untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kondisi ini adalah pertanda krisis ekonomi.
Menurut Anindya, koreksi yang terjadi di pasar modal saat ini lebih tepat dilihat sebagai fase transisi, terutama di tengah upaya pembenahan dan reformasi yang sedang dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI). "Saya rasa tentu koreksi ini, kalau kita lihat, tentu banyak yang melihat ‘wah kok bisa 2-3 kali trading halt. Tapi saya berharap, ujung yang paling penting adalah secara fundamental ekonominya tidak bermasalah. Itu yang paling penting," ujarnya saat ditemui di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Anindya menambahkan, langkah-langkah reformasi yang diambil oleh regulator dan bursa justru merupakan sinyal positif bagi investor global. Ia meyakini bahwa investor asing akan melihat keseriusan Indonesia dalam membenahi pasar modal. "Upaya untuk reformasi regulator dan bursa adalah bagus. Saya yakin dari luar negeri akan melihat bahwa kita serius. Mungkin di masa transisi ada sedikit koreksi, saya rasa itu wajar," katanya.
Lebih lanjut, Anindya menekankan pentingnya menjaga fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan bagi dunia usaha. Ia berharap pasar modal tetap menjadi tempat yang menarik bagi pelaku usaha untuk mencari modal dan merealisasikan usaha.
Senada dengan Anindya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) juga melihat gejolak pasar modal saat ini sebagai momentum untuk melakukan reformasi menyeluruh. Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menilai bahwa krisis kepercayaan di BEI perlu dilihat secara lebih struktural.
Pandu menegaskan bahwa reformasi pasar modal bukan hanya kepentingan satu institusi, melainkan kebutuhan seluruh ekosistem. Ia mengusulkan beberapa langkah struktural yang dibutuhkan pasar, termasuk peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, pendalaman pasar, dan penguatan likuiditas.





